04.52

Andai Aku Jadi Pemimpin ?!


"Kullukum râ'in wa kullukum masûlun 'an ra'iyyatihi". Setiap manusia lahir ke dunia tidak hampa dari suatu misi. Misi yang oleh berapa pakar linguis diterjemahkan dengan "tugas mulia" itulah yang akhirnya diaktualisasikan dalam perbuatan sehari-hari, baik bersifat vertikal maupun horizontal. Secara horizontal, manusia dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan (being adaptable) di samping juga diharapkan mampu memberikan pelayanan terhadap sesamanya (being servant). Maka dari itulah akhirnya tercipta hubungan yang harmonis dan dinamis antar sesama manusia.
Setiap orang adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas apa dan atau siapa yang dipimpinnya. Terma kepemimpinan, dalam arti yang lebih luas tentunya berlaku bagi siapa saja dan di mana saja. Standar minimalnya setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, sebelum ia mengaktualisasikan potensinya yang lain untuk dapat memimpin keluarga hingga pada masyarakat yang berskala lebih besar.
Memimpin memang bukan hal yang mudah. Namun hal yang tidak mudah itu tidak berarti lantas ditinggal begitu saja. Melaksanakan hal-hal yang mudah itu biasa, namun mencoba untuk melakukan hal-hal yang sulit dan berisiko adalah luar biasa. Begitu banyak kriteria yang dilekatkan kepada seorang pemimpin. Di antaranya adalah "ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Begitulah dahulu salah seorang salaf kita, Ki Hajar Dewantara, memberikan gambaran kriteria seorang pemimpin yang baik.
Beberapa ungkapan lain dalam bahasa jawa yang senada dengan itu juga masih banyak lagi kita temukan dalam catatan sejarah nusantara. Sejenak menengok ke al-Qur'an dan al-Hadits kita juga akan lebih banyak lagi menemukan beraneka ragam pelajaran seputar kepemimpinan. Dan itu semua telah diterjemahkan dalam akhlak sang manusia mulia Muhammad Saw. Maka cukuplah beliau sebagai representasi dari berbagai sample figur pemimpin yang sukses, dicintai rakyat dan dikenang sepanjang masa.
Maka jika aku nanti jadi seorang pemimpin, betapa kesabaran dan kebijaksanaan nabi Muhammad itulah yang pertama kali harus dicontoh. Menghadapi begitu banyak masyarakat yang multikultural dan heterogen memang tidak mudah. Dari situ seorang pemimpin dituntut untuk peka dan sabar dalam mengemban amanat mengawal aspirasi rakyat. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana seorang pemimpin bisa memberikan teladan, mengedepankan kebersamaan, mengeratkan persaudaraan, lalu dari situ membentuk sebuah barisan untuk bergerak bersama menuru arah yang lebih baik dari sebelumnya. Allahu Akbar!

0 komentar: